This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 24 Juni 2012

Festival Syariah, Fasilitas untuk Menggali Potensi



Polines - DIMENSI (19/06). Pada hari Jumat (15/06) bertempat di Ruang Serba Guna Politeknik Negeri Semarang, Jurusan Akuntansi Program Studi Perbankan Syariah, kembali menyelenggarakan Festival Syariah. Kegiatan yang dilaksanakan rutin setiap tahun ini, diselenggarakan dengan tujuan salah satunya untuk mempersiapkan mahasiswa Perbankan Syariah dalam  menghadapi Olimpiade Syariah.

Untuk Olimpiade Syariah sendiri, Polines telah mengikuti sebanyak 3 (tiga) kali. Yaitu pada tahun 2009, 2010, dan 2011. Pada tahun 2009 belum ada target untuk menang, namun yang utama adalah pengalaman. Pada tahun 2010 Polines sudah masuk 5 (lima) besar, dan tahun 2011 Polines bersama Universitas Diponegoro menjadi tuan rumah Olimpiade Syariah, yang tempat pelaksanaannya di Universitas Diponegoro.

“ Kalau kuliah di Politeknik ini kan perlu penguatan kompetensi di masing-masing Program Studi, sehingga dari Politeknik memberikan fasilitas untuk menggali potensi, biar mahasiswa kompeten dalam masing-masing bidangnya”, tutur Mustika Widowati Kaprodi Perbankan Syariah.

Pada Festival Syariah kali ini, pesertanya dari mahasiswa Perbankan Syariah tingkat 1 (satu) dan tingkat 2 (dua). Berbeda dengan tahun lalu yang pesertanya dari tingkat 1 (satu) sampai dengan tingkat 4 (empat). Dari peserta yang ada, diambil 3 peserta terbaik yang selanjutnya ketiga peserta tersebut masing–masing membuat dan mempresentasikan makalah sesuai dengan topik yang telah ditentukan.

Kegiatan ini bermanfaat untuk mempersiapkan bibit unggul dan untuk mengasah kemampuan mahasiswa. Menurut Agis Adi Luhung, salah satu peserta Festival Syariah, “Acara ini bermanfaat terutama untuk para mahasiswa tingkat satu yang bisa dikatakan, masih kurang pengalaman yang berhubungan dengan Olimpiade Syariah. [irma]

Kuliah Umum “Penilaian Kesehatan Bank Berbasis Resiko”


Polines-DIMENSI (15/06).  Program studi Keuangan dan Perbankan telah mengadakan Kuliah Umum yang bertema “ Penilaian Kesehatan Bank Berbasis Resiko” pada hari jumat, 15 Juni 2012 lalu. Kuliah umum ini dihadiri para dosen dan mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan serta Perbankan Syariah. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB dibuka oleh Direktur Politeknik Negeri Semarang, Bapak Totok Prasetyo.
Dalam acara ini menghadirkan Bapak Joni Swastanto, selaku Kepala Bank Indonesia wilayah Jawa Tengah dan DIY sebagai pemberi materi. Kuliah Umum ini diawali dengan sambutan dari Direktur Polines, dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang RBBR (Rating Bank Based Risk) dan Manajemen Resiko dari pihak BI (Bank Indonesia). Karena waktu yang dijadwal hanya sampai Pukul 11.00, dalam pemberian materi langsung diselingi sesi tanya jawab bagi para peserta kuliah. “Kami diberi materi mengenai berbagai macam resiko untuk menilai tingkat kesehatan bank, lalu contoh perhitungan sederhana, dan juga bisa berbagi ilmu dari sesi tanya jawab dengan pihak BI dan mendapat penjelasan yang memuaskan,” tutur Stefani Gusti salah satu mahasiswa peserta kuliah umum.
Acara yang diadakan oleh Jurusan Akuntansi ini bertujuan agar pihak akademisi dapat lebih mendalami teori mengenai manajemen resiko dan juga mengetahui praktek di dunia nyata, tidak hanya sekedar teori saja. “Supaya kami lebih mengetahui dunia praktisi maka dari itu kami mendatangkan pihak praktisi seperti Bank Indonesia dan acara semacam ini akan kami adakan sekitar dua atau tiga bulan lagi,” ujar Bapak Aris Sunindyo, salah satu dosen Keuangan dan Perbankan.
Acara yang diadakan di Ruang Serba Guna (RSG) Polines ini berlangsung selama dua jam. Meskipun hanya berlangsung singkat namun menurut para peserta, kuliah umum ini memberikan banyak tambahan pengetahuan. “Ilmu yang diberikan sangat bermanfaat, kami jadi lebih tahu mengenai manajemen resiko. Dan Pak Joni dalam menjelaskan materinya bisa menyampaikan dengan  baik sehingga saya bisa langsung paham dari penjelasan beliau,” ungkap Sri Marpi’ah, salah satu mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut.

Pupuk Jiwa Entrepreneurship Lewat Seminar


Polines – DIMENSI (19/06). Jurusan Administrasi Niaga (AN) Politeknik Negeri Semarang menggelar Seminar Nasional bertajuk Entrepreneurship Bagi Pembangunan Berkesejahteraan Sosial & Diseminasi Riset. Acara seminar nasional sendiri berlangsung di Ruang Serba Guna (RSG) Politeknik Negeri Semarang dari pukul 08.30 sampai 12.00 WIB yang kemudian dilanjutkan acara diseminasi riset atau mempresentasikan hasil riset para dosen dari seluruh Politeknik se-Indonesia bertempat di Gedung lama AN hingga pukul 16.30 WIB.
Rangkaian acara dimulai dengan Seminar Nasional yang terbuka untuk umum dengan menghadirkan 3 pembicara yaitu Prof. Dr. Ing.Wardiman Djojonegoro–Dewan Pembina Habibi Center, Budi Wiyono–praktisi entrepreneur, dan Prie G.S–motivator dan Budayawan. Acara diawali dengan pembahasan materi entrepreneurship yang disampaikan oleh BapakWardiman. Beliau merupakan mantan Menteri Pendidikan di era Pak Harto, yang terkenal dengan link and match-nya, beliau ahli dalam bagaimana menghubungkan pendidikan dengan dunia kerja. Beliau dihadirkan sebagai pembicara dari sudut pandang akademisi untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan. Materi dilanjutkan oleh Budi Wiyono sebagai sudut pandang dari segi seorang praktisi entrepreneur, dan kemudian materi terakhir oleh PrieG..S, motivasi sebagai penggugah agar semangat tidak kendor menjadi seorang entrepreneur. Saat penyampaian materi motivasi, peserta sangat antusias. Prie G.S menyampaikan materi dengan santai, memotivasi peserta melalui cerita – cerita dari pengalaman terdahulunya yang memancing gelak tawa dari peserta. Seminar Nasional ini ditutup oleh sesi tanya jawab antara peserta dengan pembicara.
Menurut keterangan MRR. Tiyas Maheni Dk. S.H.,M.H, selaku Ketua Pelaksana, “sebenarnya kegiatan seminar kemarin itu murni dari kegiatan jurusan, tapi ide awalnya itu memang hanya untuk para pengajar saja. Para pengajar yang berkaitan dengan tri dharma perguruan tinggi yaitu selain mengajar, juga melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Nah, hasil penelitian para pengajar itu kita presentasikan atau diseminasi riset di acara Seminar Nasional kemarin. Kemudian tiba – tiba dalam pemikiran kami terbesit bagaimana kalau kami juga mendatangkan pembicara dan nantinya akan memprovokasi mahasiswa. Jadi biar nyambung, kita melakukan penelitian tentang kewirausahaan di satu sisi mahasiswa juga kita upayakan agar  mempunyai jiwa – jiwa kewirausahaan.”
“Menurut saya dengan seringnya Polines ngadain seminar entrepreneur kayak gini tuh kayak mengubah mindset kita, untuk jadi entrepreneurship muda. Acaranya bagus kok, mungkin waktu sesi tanya jawabnya kurang. Sebenarnya aku tadi mau tanya tapi nggak sempet,” tutur Erni Mayo salah satu peserta seminar.
Ibu Tiyas Maheni menambahkan bahwa harapan dari diadakannya acara ini selain membangkitkan jiwa kewirausahaan, juga supaya mahasiswa mendapatkan sesuatu yang berbeda. Agar mereka menyadari bahwasanya lulusan perguruan tinggi semakin meningkat, tetapi tidak diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Ketidakseimbangan itu menimbulkan pengangguran dan kemiskinan. [erk]



Rabu, 06 Juni 2012

Sosialisasi Konsentrasi Program Studi Teknik Mesin




Kajur Teknik Mesin beserta jajarannya dalam 
sosialisasi konsentrasi di prodi Teknik Mesin



Polines, DIMENSI (06/06) – Program Studi Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin pada siang tadi menggelar sosialisasi tentang konsentrasi yang terdapat pada prodi tersebut. Acara yang dimulai pukul 13.00 ini dibuka oleh Ketua Jurusan Teknik Mesin, Bapak Kunto. Pandangan mahasiswa yang selama ini cenderung salah terhadap konsentrasi melatarbelakangi diadakannya acara sosialisasi yang baru pertama kali ini diselenggarakan.

Selama ini mahasiswa Prodi Teknik Mesin beranggapan bahwa antara konsentrasi satu dengan yang lain memiliki tingkatan kualitas berbeda. Padahal, semua konsentrasi memiliki level yang sama, tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Dalam ijazah juga tak tercantum konsentrasi, sehingga tak membatasi lulusan untuk mencari pekerjaan.

Memang pada Prodi Teknik Mesin terdapat empat konsentrasi. Yakni perancangan, perawatan, produksi, dan alat berat. Pengonsentrasian dilakukan saat mahasiswa memasuki semester lima. Namun, dalam acara sosialisasi ini mahasiswa semester dua turut diundang. “Sebenarnya ini cuma untuk anak semester 4, namun kita juga mengundang anak semester 2 agar jauh-jauh hari mereka memiliki pandangan tentang konsentrasi apa yang nantinya akan diambil. Serta mengklarifikasi juga tentang adanya konsentrasi ini,” ujar Bapak Joko Tri, Kaprodi Teknik Mesin yang baru saja terpilih menggantikan Bapak Heru.

Dalam acara tersebut juga hadir perwakilan dari PT Indo Tractor. Kehadiran pihak Indo Tractor tersebut juga dalam rangka menyosialisasikan salah satu konsentrasi yaitu konsentrasi alat berat. Konsentrasi yang baru dibuka setahun ini merupakan hasil kerjasama prodi teknik mesin dengan PT Indo Tractor dalam rangka perekrutan pegawai.

Jumat, 25 Mei 2012

POLINES menjadi Tuan Rumah PEKSIMIDA ke XI

Polines,DIMENSI- Kamis(24/05) berlangsung acara Pekan Seni Mahasiswa Daerah Selekda Tangkai Vocal Group Tingkat Jateng ke XI (PEKSIMIDA) di Ruang Serba Guna Polines.Acara ini sebelumnya diawali dengan technical meeting yang dilaksanakan pada hari Rabu.
”Ini kali pertama Polines dtunjuk menjadi tuan rumah,karena kita baru menjadi anggota aktif selama 3 tahun,” ungkap Lilik, ketua panitia penyelenggara yang  juga merupakan dosen Jurusan Teknik Sipil Polines. Selain itu, Polines juga baru pertama kali ikut berpartisipasi dalam kontes PEKSIMIDA ke XI. Perwakilan dari Polines beranggotakan 12 orang dari UKM KONSEP.
Ruang serba guna dipadati oleh para perserta dan para penonton. Persiapan peserta lomba sangat matang terlihat dari kostum yang dikenakan juga dari performance mereka di atas panggung.Penampilan mereka sangat memukau para penonton.Hal ini ditunjukkan setiap kali peserta usai perform, penonton banyak yang memberikan applause.Sehingga persaingan diantara peserta semakin sengit.Salah satu penampilan yang banyak menerima applause dari para penonton yakni dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
“Ini acaranya terbilang sukses,dan pelaksanaannya lancar dan terstruktur” jelas Lilik.
Peserta datang dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh Jawa Tengah.Sebanyak 16 grup mengikuti acara tersebut, dimana dalam 1 grup beranggotakan minimal 5 orang dan maksimal 12 orang. Acara PEKSIMIDA diadakan 2 tahun sekali oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia(BPSMI). Masing-masing vocal group menyanyikan 2 lagu.Dimana terdiri dari lagu wajib dan lagu pilihan.Lagu wajib terdiri dari Nasi Kododai dan Lo Song.Sementara lagu pilihan terdiri dari Indonesia Jaya, Pelangi di Matamu dan Burung Camar. Satu yang paling baik dari yang terbaik nantinya akan diikutsertakan dalam lomba tingkat nasional mewakili Jawa Tengah di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat tanggal 1-6 Juni 2012.
Puncak acara PEKSIMIDA yaitu ketika dibacakannya pengumuman pemenang oleh ketua juri dalam acara tersebut. Juara Harapan III dengan perolehan nilai 1400 diraih oleh Politeknik Negeri Semarang, Juara Harapan II dengan perolehan nilai 1439 diraih oleh Universitas Negeri Semarang, Juara Harapan I dengan perolehan nilai 1454 diraih oleh Universitas Katholik Soegijapranata, Juara III dengan perolehan nilai 1489 diraih oleh Universitas Dipenogoro, Juara II dengan perolehan nilai 1507 diraih oleh Universitas Sebelas Maret, dan trophy Juara I dengan perolehan nilai 1532 telah berhasil dibawa pulang oleh Universitas Kristen Satya Wacana. [ninda-septi]

Senin, 23 April 2012

Short Course of TOEFL


Polines, DIMENSI (13/04) - The Test of English as a Foreign Language (TOEFL) merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat profisiensi Bahasa Inggris mahasiswa. Sesuai surat keputusan dari pusat yang berlaku mulai kelulusan 2009, mahasiswa diwajib lulus tes TOEFL sesuai skor yang ditentukan tiap prodinya. Tes tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat akhir (angkatan 2009), dengan biaya Rp 30 ribu untuk dua kali tes karena belum tersedianya dana dari pusat.  Sedangkan jika mengulang, harus membayar Rp 30 ribu lagi untuk dua kali tes dan untuk selanjutnya hanya Rp 10 ribu untuk tiap tesnya. Harga tersebut sudah sangat murah jika diban-dingkan biaya tes di lembaga luar institusi yang berkisar  Rp 180 ribu.
Pihak pusat sebenarnya menghendaki TOEFL berbasis Institutional Testing Program (ITP) dengan biaya tes swadana sebesar Rp 300 ribu. Namun mengingat tes TOEFL bagi mahasiswa angkatan 2009, untuk mencapai kelulusan harus mengulang beberapa kali tes. Sehingga untuk angkatan 2010 keatas dipersiapkan dengan mengadakan pelatihan.
Pelatihan ini diadakan setiap Sabtu selama tiga minggu, sejak pukul 08.00-13.00 WIB.  Pelatihan tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa tingkat awal dan menengah dan program tersebut baru dimulai tahun ini. Pihak UPT Bahasa sendiri dilarang memungut dana dari mahasiswa, namun karena dana yang turun dari pusat minim, pihak UPT mengambil solusi dengan mengadakan pelatihan gratis dan hanya mengganti biaya modul, CD, dan post test sebesar Rp 50 ribu. Post test itu sendiri bertujuan untuk memberikan prediksi terhadap masing-masing mahasiswa sebelum benar-benar menghadapi ITP-TOEFL nantinya.
Maksimal ketidakhadiran pelatihan adalah satu kali, selebihnya akan dikenakan Surat Peringatan (SP) dari kampus dan mengganti biaya pelatihan sebesar Rp 150 ribu. “Dana dispensasi akan digunakan untuk biaya operasional, mengurangi biaya test, atau diakumulasikan. Yang jelas nanti akan kembali lagi ke mahasiswa, entah itu untuk adik angkatan atau dipergunakan saat kelulusan,” ungkap Vera, Administrator UPT Bahasa .
Tentor yang diberdayakan dalam training tersebut me-rupakan dosen Bahasa Inggris dari masing-masing jurusan. Namun seperti yang dikeluhkan salah seorang maha-siswa Jurusan Elektro yang tidak mau disebut namanya, menyatakan bahwa dalam penyampaian materi kurang memuaskan.
“Karena ini short course, kendalanya menyesuaikan skills yang ada di TOEFL bisa tercakup semua. Keterbatasan tenaga pengajar juga, kalau ada yang tidak bisa hadir susah mencari gantinya. Lalu kendala lagi untuk memperbanyak modul dan kaset CD untuk 300 mahasiswa setiap sesinya.” ungkap Sasongko, dosen Bahasa Inggris Elektro.
Ujian ITP dirancang agar dapat menjadi ukuran keahlian seseorang dalam berbahasa Inggris, tetapi bukan untuk me-nilai kecerdasan akademis. Sedangkan apabila mahasiswa menginginkan sertifikat hasil TOEFL tersebut, dikenakan biaya sebesar Rp 5 ribu untuk setiap mahasiswa.
Sri Wahyuni selaku Sekre-taris UPT Bahasa menyatakan bila skor ITP TOEFL kini tidak hanya diperlukan di dalam lingkungan akademis, tapi juga di beberapa instansi kerja swasta dan negeri baik di dalam dan di luar negeri sebagai prasyarat bagi para pelamar kerja maupun untuk kenaikan jabatan atau promosi.
Berbeda dengan tes yang dilaksanakan oleh tingkat akhir sekarang ini. Sri Wahyuni mengatakan bahwa tes tersebut hanyalah prediction test dan sebenarnya tidak sah jika dilabeli TOEFL. Walaupun tes tersebut hanya merupakan prediction test, tetap dapat digunakan untuk prasyarat mendaftar pekerjaan maupun universitas selama tidak ke luar negeri.[Shofi,Septi]

Gambaran Kepemimpinan Masa Sekarang


Oleh :
Nur Kholis
Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Semester VI
Bulan ini mungkin menjadi bulan yang sibuk bagi masing-masing ormawa dalam  mem-persiapkan pergantian ketua untuk formasi kepemimpinan ditahun berikutnya. Pamflet berisi foto calon ketua beserta visi dan misi dari masing-masing calon, berisikan janji-janji untuk meyakinkan mahasiswa sebagai para pemegang hak pilih untuk memberikan suara mereka. Pamflet-pamflet tersebut mulai akrab dipandang di berbagai papan peng-umuman.
                Berbeda dengan para anggota ormawa yang ikut terjun langsung untuk kepengurusan ormawa, mereka tidak ada masalah dalam menilai dan memilih, siapa nanti yang akan menjadi ketua periode selanjutnya. Namun statement tersebut tidak ber-laku bagi mahasiswa umum yang notabenya tidak ikut terlibat dalam kepengurusan. Tentunya akan sangat berbeda bagi mahasiswa non ormawa untuk menentukan pilihan yang tepat, karena mereka hanya bisa memilih dan jika tidak memilih  dianggap golput.
“Membeli kucing dalam karung”, mungkin ungkapan tersebut cocok untuk menggambarkan situasi sekarang karena dari masing-masing calon ketua, kita hanya tahu wajah mereka dari pamflet yang ditempelkan beberapa hari sebelum pemilihan. Dan pada saat waktu pemilihan,  tiba-tiba kita disodorkan kertas suara untuk memilih para calon. Pemikiran lain mulai muncul, “saya ingin golput, saya tidak tahu mereka, tidak tahu siapa mereka dan lagi pula golput itu juga pilihan”. Tapi sebuah sistem menuntut kita harus memilih.
                Belum lagi masalah visi-misi yang mereka paparkan dan janji yang mereka tuturkan saat kampanye, apakah ada jaminan mereka akan merealisasikan itu?  Serta tujuan dari calon itu sendiri, yang menjadi pertanyaan apakah mereka itu mencalonkan diri atas inisiatif sendiri atau karena ada tujuan dari kelompok lain dibelakang bakal ketua itu? Dan yang disayangkan setelah itu adalah tak terlihatnya calon ketua terpilih setelah berhasil memenangkan persaingan tersebut. Itulah yang menimbulkan rasa kecewa karena terkadang kita tidak merasa adanya perubahan saat ketua terpilih telah menjabat.
                Kita dapat lihat di Indonesia, untuk tahun-tahun terakhir ini banyak kekecewaan yang timbul dengan kepemimpinan pemeritah pusat. Kasus korupsi yang belum terselesaikan sehingga me-nambah banyak daftar kasus korupsi yang tidak terungkap. Sampai isu BBM akan naik yang menimbulkan kerusuhan karena protes dan demo masyarakat sampai mahasiswa dari berbagai penjuru merupakan pemandangan yang kita lihat setiap hari. Itulah ke-pemimpinan yang terlahir dari pemungutan suara, dari pamflet-pamflet yang ter-tempel, dari jargon-jargon yang diteriakan, dan dari janji-janji yang diucapkan. Pertanyaan yang simpel, kalau sistem tersebut kurang efektif digunakan dan hanya menimbulkan kekecewaan dari para pemilih. Kenapa di kampus kita masih menggunakan sitem tersebut?

Kamis, 12 April 2012

Selisih 54 Suara Menjadi Penentu Kemenangan


Polines,DIMENSI - (10/04) Puncak dari serangkaian Pemilu Raya (Pemira) hari Selasa (10/4) telah menghasilkan keputusan yakni terpilihnya pasangan Reza-Anto sebagai Presma-Wapresma periode 2012-2013 dengan perolehan 869 suara. Di peringkat kedua, tampak pasangan Ilzam-Fadhlan memperoleh sebanyak 815 suara dan peringkat ketiga diduduki oleh pasangan Dedy-Rizky dengan 545 suara. 
Persaingan untuk menduduki kursi Presma - Wapresma pada tahun ini terlihat lebih ketat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan jumlah calon bertambah dan setiap calon berpasangan dengan jurusan yang berbeda. Seperti pasangan Reza-Anto, dimana Reza berasal dari Jurusan Akuntansi, dan Anto dari Jurusan Teknik Sipil. 
Mengenai banyaknya golput dan surat suara rusak yang masih banyak, Ketua Komisi Pemilu Raya (KPR), Alfin Kurniawan Azizi menyatakan bahwa mereka yang golput belum menyadari manfaat, peran serta fungsi BEM dan BPM. Sedangkan untuk kerusakan kartu suara disebabkan oleh cara pencontrengan yang salah. Seperti salah satu surat suara yang terdiri dari 3 foto pasangan kandidat, di contreng ketiganya sehingga dianggap tidak sah. Ketua KPR juga menyatakan apabila terjadi  human error dari KPR yakni kelalaian pengecapan kartu suara. 
Ia berharap agar semua kandidat terpilih dapat merangkul semua mahasiswa, karena mereka dipilih langsung oleh mahasiswa Polines. Muh. Reza Aji Perdana selaku Presiden Mahasiswa terpilih berharap agar dirinya dapat menjalankan amanah, menuntaskan visi dan misi, membawa perubahan ke BEM dan membawa Polines ke arah yang lebih baik.” [ika]

Pemira yang Basi dan Tidak Menarik


Oleh: Bela Jannahti
Mahasiswa Semester IV Jurusan Teknik Mesin

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat kepada presma dan wapresma kita yang baru saja terpilih, serta kepada seluruh ketua ormawa yang baru saja menggantikan ketua sebelumnya dalam kepengurusan. Regenerasi memang telah menjadi kebutuhan setiap lembaga untuk menjaga keberlangsungannya. Dan ketua, pimpinan tertinggi dari suatu lembaga atau organisasi, menjadi sesuatu yang amat vital dalam proses regenerasi tersebut. Tak heran apabila masa penentuan ketua turut menentukan akan dibawa kemana organisasi atau lembaga tersebut.
Baru beberapa hari yang lalu pun kita mengadakan pemilihan umum raya, yaitu pesta demokrasi untuk memilih pemimpin baru kita. Pesta demokrasi tersebut seharusnya diikuti oleh seluruh rakyat yang dalam konteks ini berarti mahasiswa. Namun realitasnya, apresiasi dari mahasiswa masih jauh dari maksimal. Entah strategi kegiatan yang kurang mengena, atau memang target strategi yang apatis, cenderung tak mau tahu tentang urusan macam itu. Mahasiswa yang saya maksud disini adalah mahasiswa Politeknik Negeri Semarang secara umum, tak hanya punggawa ormawa-ormawa namun juga mahasiswa yang tak terikat organisasi manapun.
Seperti terlihat di Kantin Tata Niaga, 5 April 2012 pukul 14.00 saat diadakan kampanye dialog terbuka capresma dan cawapresma. Sebelum acara inti, terlebih dahulu diadakan perkenalan calon anggota Badan Perwakilan Mahasiswa. Perkenalan ini bagi saya sama sekali tidak menarik. Sebagian besar kandidat yang mengenalkan diri hanya berorientasi pada lembaganya sendiri, menge-sampingkan fungsi utama BPM yang sebagai badan perwakilan mahasiswa. Pada saat membacakan misi kedepan, belum ada yang memberikan contoh konkrit, masih terlalu abstrak dan di angan-angan. Serta belum ada kandidat yang inovatif dan memiliki cara pandang baru, termasuk caranya berkampanye dan menarik minat calon pemilih. Basi.
Saat-saat yang menarik malah saya temukan saat para kandidat diminta merundingkan suatu permasalahan yang diajukan oleh peserta. Melihat  para kandidat, berunding, mengingatkan saya pada briefing strategi yang dilakukan tim sepakbola sebelum mulai bermain. Panitia penyelenggara terlalu mudah digiring penonton yang hadir.
Pukul 16.00 baru dimulai dialog antar capres dan cawapres, satu jam lebih lambat dari yang semula dijadwalkan, yaitu pukul 15.00. Para kandidat tersebut menyatakan bahwa tepat waktu merupakan keharusan, namun mereka pula yang membuat acara tersebut mundur satu jam, karena menunggu peserta (kandidat anggota BPM) yang belum hadir.
Pada awal-awal dialog capresma dan cawapresma, suasana begitu membosankan dan kurang menarik. Sebelas duabelas dengan pertanyaannya yang klasik, jawaban yang diberikan pun juga merupakan jawaban klasik yang itu-itu saja.
Suasana semakin memanas ketika semakin sore dimana  muncul pertanyaan-pertanyaan yang saya lihat cukup membuat para calon berpikir.  Salah satu pertanyaan yang cukup menarik adalah permintaan salah satu penonton kepada para calon untuk menyebutkan sepuluh permasalahan yang ada di Polines. Saya terkesan, karena dari jawaban mereka akan mengungkap atensi mereka ter-hadap kampus yang akan mereka pimpin.
Sebagai penutup adalah permintaan dari salah satu penonton kepada masing-masing pasangan untuk menganalisis dan menanggapi atau mengkritik visi dan misi dari pasangan lain. Dari situ, timbul perdebatan yang cukup panas dan memakan waktu. Dialog benar-benar hidup saat itu.
Mungkin memang diperlukan suatu pancingan untuk menghidupkan kegiatan seperti itu, dialog, debat, diksusi, dan sebagainya. Yang amat disayangkan, pancingan tersebut belum mengena ke mahasiswa umum yang bukan anggota ormawa. Harapannya, kepengurusan tahun depan bisa meningkatkan apresiasi para mahasiswa untuk lebih aktif dalam pesta demokrasi ini. Dalam setiap regenerasi memang diharapkan hal itu, keadaan yang lebih baik dari keadaan kemarin dan semakin baik kedepannya. Semoga saja kita tak menjadi generasi yang merugi.

Kelanjutan Nasib Alat – Alat Hasil TA


Polines, DIMENSI - (05/04)  Polines yang memiliki lima Jurusan, setiap tahunnya akan kebanjiran oleh berbagai produk hasil karya TA mahasiswanya. Salah satunya adalah karya dari jurusan Teknik Mesin yang  mencapai 60 buah/ tahun.
Ketua gudang Jurusan Teknik Mesin, Sunarto menu-turkan bahwa alat-alat hasil TA tersebut disimpan di gudang perawatan. Selain itu, sebagian dari alat tersebut difungsikan untuk proses perkuliahan di Jurusan Teknik Mesin. Salah satunya adalah mesin poles yang berfungsi untuk menghaluskan permukaan material yang akan dipakai untuk praktek.
Namun, Sunarto tidak dapat memastikan mengenai berapa banyak jumlah alat yang dapat difungsikan. “Hasil TA mahasiswa Jurusan Tehnik Mesin yang kebanyakan dapat difungsikan di lab jurusan adalah sistem hidrolik,” ujar Sunarto. Namun sebagian hasil TA juga dibongkar karena tidak dapat difungsikan. Beliau juga memaparkan bahwa hasil TA di tahun sebelumnya dapat digunakan kembali  sebagai bahan TA tahun berikutnya, namun harus berdasarkan rekomendasi dari pembimbing.
Menanggapi mengenai nasib alat hasil TA, Cynthia salah satu Mahasiswi KE 3D menyatakan, “Sebenarnya eman-eman juga, secara bikinya kudu beli alat-alat yang mahal juga. Menghabiskan waktu juga, jadi eman-eman kalo cuma dianggurin.  Mungkin bisa dipakai untuk praktek adik kelas saja.”
Prestasi tercetak pada tahun 2010 yakni hasil TA mahasiswa prodi Mesin berupa mesin perajang sampah, mampu menarik perhatian sebuah perusahaan.  Dimana perusahaan tersebut  menginginkan agar alat tersebut di produksi  untuk perusahaanya. Selain itu, di tahun 2010, Badan Pemberdayaan Masyarakat (Baper-mas) melirik hasil TA dan memesan sebuah mesin Mikrohidrolik. “Setiap tahun kita juga memamerkan hasil TA unggulan mahasiswa jurusan Teknik Mesin saat acara Dies Natali Polines ketika peneri-maan mahasiswa baru,” ujar   Sunarto.
Salah satu Mahasiswa tingkat III Jurusan Teknik Mesin yang enggan disebutkan namanya juga menuturkan bahwa ia tidak mengetahui mengenai hasil TA yang tiap tahunnya dipesan oleh pihak luar. “Saya berharap agar alat tersebut sebaiknya di rawat dengan baik,” tutup mahasiswa tersebut. [ninda, rth]