This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 15 Maret 2012

Eksistensi KSR melalui HDC IV


Polines, DIMENSI (11/3) - Korps Suka Rela (KSR) menyelenggarakan agenda tahunan Henry Dunant Competition (HDC) pada Jumat (9/3) hingga Minggu (11/3), di kampus Polines.  Seperti yang diungkapkan oleh Fauzi Amani selaku Komandan  KSR, HDC tahun ini adalah tahun keempat dan tema yang dipilih adalah “Implementation of Volunteer’s Skill With Creative Competition”. Tujuan dan sasaran kegiatan ini tetap sama yaitu sebagai bentuk promosi Polines di tingkat SMK/SMA dan menumbuhkan bibit-bibit baru yang selalu tanggap bila ada yang membutuhkan pertolongan
            Ada tujuh macam kategori yang dilombakan dalam kompetisi ini guna memperebutkan trofi dan sertifikat untuk setiap sub kategori yang dilombakan.  Antara lain Pertolongan Pertama (PP), Perawatan Keluarga (PK), Pendidikan Remaja Sebaya (PRS), Poster, Pentas seni, Teknologi Tepat Guna (TTG) dan Cerdas Cermat. Terdapat 18 kontingen yang terdiri atas 10-15 peserta dan satu official dari anggota PMR tingkat SMA/SMK  se-Jateng dan DIY yang turut berpartisispasi dalam acara ini.
            Rangkaian kegiatan HDC ini diawali dengan registrasi peserta pada hari Jumat. Sedangkan untuk  upacara pembukaan dan kegiatan perlombaan diadakan pada hari Sabtu. Setelah tampil dan mengikuti beberapa rangkaian kegiatan, SMA 1 Banjarnegara yang diwakili dua kontingen masing-masing keluar sebagai juara umum pertama dan ketiga, sedangkan juara kedua diraih oleh SMK 1 Depok, Sleman.
            Kesuksesan HDC IV ini tidak lepas dari kerja keras panitia dalam mempersiapkan semuanya sejak bulan November lalu. Namun kesuksesan itu tak lepas dari berbagai kendala yang datang seperti keluhan yang datang dari beberapa peserta. “Panitianya seperti belum siap, juga tidak ramah, banyak larangan-larangn ketika lomba dimulai padahal waktu techmeet sebelumnya tidak dijelaskan. Misalnya waktu menunggu lomba, peserta diisolasi di ruang tertentu, mereka tidak diberi minum, ketika saya mau memberi minum lewat jendela malah dimarahin. Selain itu air bersih juga tidak tersedia, konsumsi pun kurang padahal biaya registrasinya 200ribu” ungkap Vita salah satu official dari SMA 3 Boyolali.(tiara,nur-mgg)

Minimnya Apresiasi Dosen


Polines,DIMENSI(9/3)-Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) mengadakan Dialog Akademik pada Rabu (7/3) yang lalu. Kegiatan bertajuk “Dengan Dialog Akademik Kita Tingkatkan Mutu dan Kualitas serta Sarana dan Prasarana Jurusan Teknik Mesin” ini berlangsung di ruang auditorium Polines. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang diadakan oleh HMM setiap tahunnya.  Sedangkan tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai sarana silaturahmi antara mahasiswa jurusan Teknik Mesin dengan para dosen, sebagai wadah menyampaikan aspirasi mahasiswa serta untuk mengevaluasi sistem akademik yang ada di Jurusan Teknik Mesin.
Adanya Dialog Akademik ini  mendapat sambutan yang cukup baik dari mahasiswa. Hal ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang hadir. “Kami tidak menyangka jika respon dari teman-teman akan sebesar ini. Bahkan ruang auditorium hampir penuh oleh peserta.” Tutur Abda’u Sahab selaku panitia. Selain itu tingginya sambutan mahasiswa juga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta. Sebagian besar pertanyaan muncul dari mahasiswa tingkat III. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun cukup beragam. Mulai dari masalah klasik tentang sarana dan prasarana jurusan, hingga klarifikasi tentang adanya dugaan perlakuan istimewa dari dosen bagi mahasiswa perempuan. “Selama ini belum ada bukti yang kongkrit tentang hal tersebut. Namun jika memang nantinya terbukti bahwa hal tersebut benar-benar terjadi, maka tentunya akan ada sanksi tegas yang diberikan pada oknum yang melakukan,” terang Wiwik Purwati dosen Prodi Konversi Energi menanggapi pertanyaan tersebut.
Lain halnya dengan apresiasi yang datang dari pihak dosen. Jika mahasiswa cukup menyambut baik kegiatan ini, namun ternyata acara ini terkesan tidak diapresiasi dengan baik oleh para dosen. Hal ini terbukti dengan minimnya dosen yang hadir. Dari sekitar tujuh puluh dosen yang diundang, hanya tiga puluh delapan orang yang memenuhi undangan. “Dialog Akademik itu penting tidak pak? Jika memang penting mengapa hanya sedikit dosen yang hadir disini?” tanya salah satu peserta. Menanggapi hal tersebut Drs. Kunto Purbono, M.Sc  selaku ketua jurusan Teknik Mesin menuturkan bahwa banyaknya dosen yang absen dikarenakan banyak dosen yang memilki kepentingan lain seperti sedang ditugaskan keluar Polines, mengikuti rapat, dll. (ambar-mgg)

Jumat, 20 Januari 2012

BAKSO CELUP



Bakso adalah salah satu hidangan yang nikmat di santap pada musim hujan seperti sekarang ini, bakso sangat cocok menjadi salah satu pilihan menu makanan yang dapat menemani saat santai Anda. Bakso kaget hadir dengan berbagai macam menu pilihan yang menawarkan 2 varian bakso. Yakni bakso celup dan bakso bakar. Cita rasa yang berbeda dari bakso biasanya, membuat bakso ini menjadi favorit dan memanjakan lidah bagi penikmat bakso.
Bakso celup adalah salah satu andalan dari produk Bakso Kaget yang kantor pusatnya berada di Bandung. Menu ini disajikan secara istimewa. Biasanya bakso disajikan dalam mangkuk namun kali ini disajikan dalam sebuah kemasan box karton dengan gambar- gambar menarik dari produk Bakso kaget. Cara menikmatinya pun tidak biasa, pertama-tama buka kemasan box kemudian buka plastik pembungkus yang ada didalamnya. Setelah itu gunakan sumpit yang sudah disediakan untuk menusuk bakso dan mengambil mie didalamnya. Kemasan ini juga praktis dibawa kemana-mana tanpa takut tumpah.
Bakso celup terdiri dari kuah bakso, bakso sapi, mie, dan pangsit. Menurut beberapa narasumber yang pernah menikmatinya, yang menarik dari bakso celup adalah kuahnya yang kaya akan rempah-rempah, baksonya yang lembut serta didukung dengan sertifikasi uji lab bebas boraks dan formalin. Informasi sertifikasi  ini dapat dibukikan bila anda datang lansung ke kedai bakso celup karena pihak pengelola sengaja menempelkan data tersebut pada gerobak bakso dan didalam ruangan kedai. Salah satu cabang dari kedai bakso celup adalah di Jl. Prof. Dr. Soedarto SH depan Mesjid UNDIP. Letaknya yang strategis membuat kedai ini mudah dijumpai konsumen.
Selain menawarkan menu bakso, kedai ini juga mempunyai menu minuman yang menyehatkan. Yaitu Manna Drink, yang bahan dasarnya berasal dari buah labu. Menunya juga bervariasi. Sehingga dapat disesuaikan dengan selera anda. Manna drink original, manna drink aloe vera, dan manna drink jelly rainbow. Tentunya menikmati seporsi bakso celup akan menjadi lebih lengkap dengan ditemani minuman-minuman yang menyegarkan dan menyehatkan. Bagaimana dengan harganya? Cocok dengan kantong Mahasiswa, terjangkau dan bervariasi. (ied, cha)


Atap Gedung SC Butuh Perhatian


Polines, DIMENSI (13/01) - Gedung SC yang berusia lebih dari 20 tahun, mengalami kerusakan di bagian  sebelah barat (depan BAAK).  Kerusakan ini dikarenakan kerangka kayu yang lapuk dimakan oleh rayap. Hal ini tentunya sangat membahayakan, khususnya bagi pejalan kaki yang lalu-lalang di bawahnya.
                Supriyo, Kajur Teknik Sipil menuturkan, bahwa kerusakan yang terjadi sudah lama dan kerusakan sebenarnya tidak hanya terjadi pada atap Gedung SC, namun di gedung kuliah Teknik Sipil yang lain seperti dinding batu tempelnya banyak yang lepas. Pihaknya sudah melapor kerusakan tersebut ke Badan Administrasi Umum bagian Kerumahtanggaan.
                Dari pihak Kerumahtanggaan sendiri sudah menindak lanjuti permasalahan tersebut. “Saya sudah mengajukan daftar perbaikan sarana prasarana fisik gedung dan lingkungan kampus pada Direktorat Pendidikan Tinggi, dan salah satu yang masuk daftar renovasi adalah gedung SC. Namun, perbaikan bisa dilaksanakan setelah dana APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) keluar. Rencananya semua atap gedung yang terbuat dari seng akan dibuat seperti gedung sekolah satu,” ujar Budi Rianto bagian kerumah-tanggaan.
                Meskipun kerusakan yang terjadi sudah cukup lama, namun banyak mahasiswa yang tidak mengetahuinya. Anisa Riski salah satu mahasiswi Perbaikan dan Perawatan Gedung, mengatakan bahwa dia tidak mengetahui adanya kerusakan pada plafon gedung meskipun dia sering melewati daerah tersebut. Sebaiknya, apabila terjadi kerusakan pada suatu bangunan, kita harus langsung melaporkannya pada pihak terkait. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. [Irma-mgg]

AcDC, Tak Sekedar Pencarian Bakat


                        3 besar, peraih peringkat 1,2,3 dalam perlombaan Accest

Polines, DIMENSI (19/01) – Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HiMA) menyelanggarakan sebuah event Accounting Day Competition (AcDC) pada Rabu (18/01) bertempat di kampus Polines. Acara ini bertujuan sebagai wadah pencarian dan pengembangan bakat baik di bidang akademis maupun  non akademis. “Sebenarnya acara ini mempunyai dua sasaran, sasaran ke dalam untuk mengembangkan bakat non akademis mahasiswa akuntansi dan sasaran keluar untuk mencari bakat akuntansi sekaligus mengenalkan Polines,” Tutur Rudy Wijayanto selaku ketua panitia acara. Rangkaian kegiatan berlangsung pada pukul 09.00 - 22.00 WIB. Acara puncak kegiatan tersebut adalah dengan menampilkan Rastaline, band reggae ternama di Semarang di malam harinya.
AcDC terdiri dari beberapa rangkaian acara seperti AGT (Accounting Got Talent), Accest (Accounting Contest), dan bazar buku serta komputer. AGT adalah ajang untuk menunjukkan bakat seni mahasiswa akuntansi. Peserta AGT merupakan perwakilan tiap kelas yang berada di jurusan Akuntansi. Acara ini dilaksanakan di halaman kantin Tata Niaga. Juara pertama diraih oleh perwakilan kelas Kompak 2-B, juara kedua oleh kelas Kompak 2-A disusul juara ketiga oleh kelas AK 2-A. Masing – masing juara mendapatkan uang tunai dan kupon untuk penyewaan sepeda.
Accest sendiri merupakan lomba akuntansi tingkat SMK se-Jawa Tengah dengan merebutkan piala bergilir Gubernur Jawa Tengah. “Tahun ini Accest diikuti oleh 52 peserta dari 19 SMK se-Jawa Tengah,” terang Nurul Hidayah selaku penanggungjawab Accest. Sebelum memasuki babak final, peserta lomba harus melalui dua tahap seleksi yaitu tahap pertama mengerjakan siklus akuntansi manual, dan tahap kedua mengerjakan akuntansi khusus dengan MYOB. Setelah melalui persaingan yang ketat, keluarlah Diah Setiani dari SMK 2 Magelang sebagai juara pertama, Istiatun dari SMK 1 Wonosobo sebagai juara kedua, dan Siti Zumaroh dari SMK 1 Kudus sebagai juara ketiga. Pemenang mendapatkan trophy accest, sertifikat, dan uang pembinaan masing – masing sebesar  Rp. 1,75 juta, Rp. 1,25 juta, dan Rp. 1 juta . “Saya senang mengikuti acara ini karena menurut saya di dalam acara ini saya dapat mengeksplor dan mempertajam pengetahuan akuntansi saya,” ungkap Diah Setiani peraih juara pertama.
AcDC semakin meriah dengan adanya bazar buku dan komputer. Bazar ini diikuti oleh Gramedia, Yudhistira, Erlangga, Penerbit Andi, Toga Mas, dan Toha Putra. “Saya harap acara seperti ini dapat terus dilakukan di tahun – tahun berikutnya dan meningkatkan kualitas acara,” harap Ibu Ch. Retno Gayatri salah satu dosen akuntansi yang sekaligus menjadi juri dalam perlombaan akuntansi. [ambar,erk-mgg]


Selasa, 17 Januari 2012

Menilik Citra Pers Mahasiswa di Mata Warga Kampus


Belum lama ini saya kembali mengalami kejadian kurang mengenakkan di kampus, yakni ditegur oleh satpam kampus ketika akan pulang. Memang saya akui, jam pulang saya terlambat, saya pulang agak larut malam setelah membantu teman-teman menyelesaikan pembuatan majalah. Namun bukan itu yang membuat si satpam marah. Satpam tersebut marah karena saya ini anggota LPM alias Lembaga Pers Mahasiswa. Saya tak kaget karena itu bukan pertama kalinya saya mengalami kejadian seperti itu. Malah sebelum kejadian tersebut, saya ditegur langsung oleh pimpinan tertinggi institusi. Ya, karena saya anggota Lembaga Pers Mahasiswa.
Dulu ketika pertama kali terjun di dunia pers, saya amat heran mengapa kebanyakan warga kampus tidak suka akan kehadiran kami. Lama kelamaan saya paham, mereka tak suka akan kritikan, meski kenyataannya mereka perlu dikritik. Kebanyakan belum memahami tentang fungsi dan manfaat pers. Yang mereka tahu, pers hanya bisa mengkritik dan menjelek-jelekkan. Padahal sebagian besar dari warga kampus tentunya adalah akademisi― orang-orang yang terdidik dan sangat paham akan peradaban. Dan ternyata tak hanya di kampus saya hal seperti itu terjadi. Tak sedikit teman-teman mahasiswa pegiat pers yang mengalami nasib serupa. Bahkan ada yang lebih parah, yakni diberedelnya majalah mereka dan penganiayaan aktivis pers mahasiswa.
Menengok ke belakang, munculnya persma atau pers mahasiswa di Indonesia sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Yang memelopori adalah mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda tahun 1924 sebagai bentuk protes terhadap ketertindasan bangsa mereka. Sempat mati suri saat kependudukan Jepang karena represi yang amat keras, namun aktivitas pers mahasiswa kembali bangkit setelah proklamasi dikumandangkan. Terutama setelah tahun 1950, persma berkembang pesat. Pada 8 Agustus 1955 di Yogyakarta diadakan konferensi I bagi pers mahasiswa Indonesia yang melahirkan dua organisasi: IWMI (Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia) dan SPMI (Serikat Pers Mahasiswa Indonesia). Tahun 1958, Konferensi II dilaksanakan dan meleburlah kedua organisasi tadi menjadi IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia). Pasang surut mewarnai perjalanan pers mahasiswa dalam berjuang melawan tirani. Pemberedelan yang marak terjadi terutama pada masa Orde Baru tak membuat para aktivis gentar memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Tak sedikit dari mereka yang menghilang tanpa jejak (baca: dihilangkan) dan dijebloskan ke penjara karena suara mereka yang begitu berani. Memang kekuatan pers merupakan salah satu kekuatan yang ditakuti oleh pemerintah, apalagi bila itu timbul dari mahasiswa.
Di masa seperti sekarang ini, masa dimana demokrasi telah meresap ke setiap komponen bangsa, pers tumbuh semakin pesat dan semakin meluas. Perkembangan teknologi pun turut andil dalam menyuburkan pers. Masyarakat lebih percaya pada media massa ketimbang pemerintah. Tukang becak pun kini melek politik.  Sudah bukan masanya pers diberedel karena kritik kerasnya terhadap pemerintah. Inilah masa kebebasan berpendapat yang mana juga kebebasan pers menjalankan fungsinya. Pers punya kode etik jurnalistik dan undang-undang yang mengaturnya. Buruknya, terkadang ada insan pers yang menyikapi independensi dan kewenangan yang dimilikinya dengan tidak bijaksana dan tidak memperhatikan kode etiknya. Untuk itulah ada Dewan Pers.
Keberadaan pers mahasiswa sama pentingnya dengan pers pada umumnya. Yang membedakan antara keduanya adalah ruang lingkup. Dahulu keduanya hampir tak memiliki perbedaan, karena ruang lingkup persma adalah ruang lingkup pers biasa juga. Namun pada masa kini, pers mahasiswa kembali ke tempat asalnya. Kampus adalah ruang lingkup persma bergerak, namun tak menutup kesempatan bagi persma untuk tetap tanggap terhadap isu-isu diluar kampus. Keduanya tetap memiliki fungsi yang sama, yaitu edukasi, informasi, hiburan, dan kontrol sosial. Fungsi yang terakhir ini yang sering menjadi masalah dan membuat citra pers mahasiswa menjadi buruk dimata warga kampus. Tak jarang yang terkena kritikan marah, tak suka, melontarkan sangkalan dan pembelaan. Wajar saja kalau menurut saya, manusia pada dasarnya tak suka dikritik, lebih suka dipuji. Yang membedakan adalah cara mereka mengekspresikan ketidaksukaan mereka. Ada yang menanggapi kritik dengan baik, mereka menerima dan mendengarkan untuk selanjutnya melakukan instrospeksi dan pembenahan. Namun kebanyakan tak menerima, meski apa yang disuarakan oleh persmanya adalah kebenaran.
Untuk itulah diperlukan keberanian yang amat besar ketika kita akan terjun ke dunia pers mahasiswa. Kejujuran dan kehati-hatian tentu juga perlu. Rintangan terberat kita adalah mereka yang menolak kebenaran dan pembenahan. Namun tak berarti juga kita memusuhi mereka. Karena pers mahasiswa didirikan bukan untuk menjadi musuh dari pihak manapun, melainkan untuk menyuarakan kebenaran dalam rangka pembenahan dan perbaikan terutama di lingkungan kampus.[bell]

Minggu, 15 Januari 2012

PNS: Ambiguitas Kemapanan Profesi

Majalah 45 download

Rabu, 11 Januari 2012

FACEBOOK VS TWITTER YANG MERAJAI KAULA MUDA

      Diera globalisasi yang sangat meningkat dari zaman ke zaman, menimbulkan berbagai macam kemajuan, salah satunya adanya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Terbukti dengan adanya penggunaan internet di berbagai lapisan masyarakat, misalnya friendster, myspace, yahoo koprol, skype, omegle, facebook dan twitter. Mereka menggunakan internet untuk melakukan akses jejaring sosial, guna memperluas pergaulan, menyebarkan suatu informasi, sebagai sarana promosi, iklan ataupun bisnis. Hal tersebut diatas merupakan dampak positif dari penggunaan jejaring sosial. Dimana ada kebaikan pasti ada keburukan dari penggunaan jejaring sosial, diantaranya penipuan, dimanfaatkan dengan tidak semestinya, serta membuat mahasiswa menjadi malas.
     Facebook dan Twitter merupakan sama-sama situs jejaring sosial atau situs pertemanan dengan tingkat kepopuleran yang tidak diragukan lagi.
     Berkaitan dengan hal tersebut, cacrew divisi litbang LPM Dimensi mengadakan jajak pendapat pada mahasiswa Politeknik Negeri Semarang dengan responden sebanyak 50 mahasiswa yang terdiri dari perwakilan masing-masing jurusan tingkat I, II dan III. Survey ini kami lakukan untuk mencari tahu tentang penggunaan jejaring sosial facebook dan twitter.
     Berdasarkan survey dari 4 buah pertanyaan yang kami ajukan, pendapat mahasiswa mengenai penggunaan facebook dan twitter, sebanyak 34% menempatkan facebook menjadi akses jejaring sosial mereka, 4% memilih twitter, 56% memilih menggunakan facebook dan twitter, dan 6% memilih tidak menggunakan dua-duanya. Kemudian dari hasil polling, diketahui bahwa 22% mahasiswa menyatakan bahwa tingkat kesulitan terletak di facebook, 78% menganggap twitter lebih sulit.
     Ketika ditanya mengenai tampilan mana yang lebih menarik antara facebook dan twitter, 70% mahasiswa menjawab facebook dan 30% twitter.  Namun, 54% mahasiswa menilai facebook lebih populer dibanding twitter, sedangkan 46% menilai twitter yang paling populer.
Berdasarkan hasil survey diatas, maka mahasiswa harus memiliki pengetahuan untuk menilai, mana sisi baik dan buruk suatu jejaring sosial yang mereka gunakan. Maka dari itu kita sebagai mahasiswa agar lebih memanfaatkan jejaring sosial dengan benar dan lebih bermanfaat.

POLING TENTANG PENGGUNA JEJARING SOSIAL
FACEBOOK VERSUS TWITTER DARI LIMA JURUSAN
DI KAMPUS POLINES

Sumber: Mahasiswa jurusan Akuntasi, Adm. Niaga, T. Mesin, T. Sipil,T.Elektro tingkat I, II, dan III Politeknik Negeri Semarang

Selasa, 10 Januari 2012

Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi


Judul: Indonesia Mengajar
Penulis: Pengajar Muda
Penerbit: Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan: November 2011
Tebal: xvii + 322 hlm
No. ISBN: 978-602-8811-57-6

Pendidikan rupanya masih menjadi barang langka dan mahal di sebagian wilayah Indonesia. Yang mutunya tinggi hanya bisa didapat di kota-kota besar. Pantas apabila pemerataan pembangunan di seluruh wilayah di Indonesia selama ini masih sebatas wacana. Tanggung jawab siapakah itu?

Gerakan Indonesia Mengajar adalah sebuah gebrakan baru yang dicetuskan oleh pegiat pendidikan, Anies Baswedan. Gerakan ini mengajak putra-putri terbaik bangsa, para sarjana muda dengan semangat dan jiwa idealisnya, untuk bersama-sama memenuhi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Hak-hak penduduk di daerah terpencil untuk mendapat pendidikan yang berkualitas dan murah selama ini masih belum diperhatikan oleh pemerintah. Karena itulah Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar ini didirikan.
Lima puluh satu intelektual muda dari seluruh penjuru Indonesia, lulusan-lulusan terbaik dari universitas terkemuka, telah memilih dan terpilih untuk mengabdikan diri selama satu tahun di daerah pelosok― jauh dari keluarga, jauh dari pusat kota, jauh dari segala teknologi modern dan kesenangan anak muda. Mereka berlima puluh satu ini adalah yang berhasil lolos dari seleksi untuk menjadi pengajar muda, menyisihkan 1.352 pendaftar lainnya. Mereka disebar di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Irian Jaya. Alih-alih menjadi seorang profesional di bidangnya dan bekerja dengan gaji tinggi, para sarjana ini lebih memilih untuk meninggalkan kemapanan kota dan melepaskan peluang karier demi mengajar anak-anak SD di daerah terpencil. Sungguh Indonesia patut bangga dengan keberadaan orang-orang seperti ini.
Di buku ini, terhimpun catatan mereka tentang pengalaman, suka duka, dan anak didik mereka selama disana. Memang tak mudah menjalani kehidupan di daerah tanpa listrik, tanpa jalanan aspal, tanpa kendaraan bermotor, apalagi internet atau wi-fi. Ditambah dengan misi untuk mendidik anak-anak pelosok, mencerahkan kehidupan dan memupuk mimpi mereka. Pun sebaliknya, mereka, para pengajar muda, juga banyak belajar dari anak-anak didik mereka dan penduduk setempat. Banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang mereka dapat selama menjadi pengajar muda, dan sebagian mereka bagikan kepada kita melalui buku ini.
Dengan pengantar oleh Anies Baswedan selaku pendiri dan ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, buku ini mengajak kita untuk menilik keadaan saudara-saudara kita yang sebangsa setanah air, namun tak senasib dengan kita. Dengan tagline “Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi”, cerita-cerita dari para pengajar muda memang sungguh menginspirasi dan memotivasi, membuat kita lebih bersyukur akan keadaan kita, dan terharu akan semangat dari anak-anak bangsa yang terpinggirkan. Really recommended book untuk Anda yang peduli terhadap pendidikan anak bangsa. “Karena mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.”


Mempertegas Keberadaan CCTV di Polines

     Pemasangan CCTV di kampus Polines saat ini sedang gencar-gencarnya menjadi pembicaraan di kalangan mahasiswa. Banyak sekali pendapat positif maupun negatif yang dilontarkan oleh para mahasiswa.
     CCTV di kalangan mahasiswa mungkin tidak asing bagi sebagian mahasiswa. Mungkin ada yang senang saat CCTV itu dipasang atau bahkan menjadi momok  yang menakutkan saat menghadapi ujian. Karena dengan keberadaan CCTV sebagian mahasiswa merasa dirinya tidak bisa bergerak bebas bahkan menyontek. Manfaat di balik CCTV bagi kalangan mahasiswa  dapat menumbuhkan rasa kejujuran dalam diri masing-masing untuk tidak berbuat kecurangan. Manfaat yang lain adalah dapat mengurangi tindakan kriminal yang akhir-akhir ini sering terjadi, misalnya laptop hilang di dalam kelas, motor hilang di sekitar area parkiran, dan lain-lain. Dan dengan adanya CCTV di kampus Polines, sangat bermanfaat untuk  mencegah dan mengurangi tindakan kriminal.
     Keberadaan CCTV di Polines menjadi perdebatan hebat bagi mahasiswa yang menganggap keberadaan CCTV hanya menghambur-hamburkan uang saja. Tetapi ada juga yang menganggap itu sebagai perkembangan teknologi canggih yang harus diikuti di era globalisasi ini.
     Dengan demikian, CCTV bukan lagi penghalang besar yang harus ditakuti mahasiswa tetapi harus menjadi cambuk bagi masa depan kita agar tidak menyontek saat ulangan. Karena Polines mempunyai penekanan bahwa jujur itu hebat dan menyontek itu tindakan jahat serta bertanggung jawab itu hebat. Menurut pendapat saya pribadi Keberadaan CCTV sangat bermanfaat karena CCTV dapat mendidik kita untuk bertindak jujur dan bertanggung jawab.