This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 05 April 2011

Fenomena Orang Akuntansi “Membeli Tiket ke Neraka"



Oleh : Vitri Dwi Afriati
Mahasiswa Semester 2
Jurusan Akuntansi

Siapa yang tidak kenal Gayus Tambunan? Kita semua pasti mengenalnya. Tentunya masih sangat teringat jelas di benak kita semua, tentang kasus Gayus Tambunan sang Mafia Pajak. Gayus Tambunan merupakan satu dari orang akuntansi yang tidak memiliki norma dan etika.
“Andai aku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya pasti bisa terpenuhi”
Begitulah sebait lirik lagu yang ditulis oleh Bona Paputungan yang menggambarkan betapa populernya sosok Gayus sebagai seorang mafia pajak. Bahkan Gayus Tambunan dapat dikatakan telah” membeli tiket ke neraka”. Mungkin terlalu ekstrim, tetapi kata tersebut pantas untuk seorang Gayus yang telah banyak merugikan negara kita. Kasus Gayus pada akhirnya memberi image buruk pada profesi akuntansi.
Padahal sesungguhnya, orang-orang akuntansi sangatlah dibutuhkan di berbagai instansi pemerintah, swasta maupun industri. Yang mana di berbagai instansi tersebut, orang-orang akuntansi memegang peran penting dalam mengelola transaksi keuangan. Lulusan akuntansi diharapkan dapat menyelesaikan siklus akuntansi sampai menyediakan laporan keuangan. Semua itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab seorang akuntan. Itulah sebabnya orang akuntansi mudah tergiur dengan tindak korupsi.
Namun beberapa lembaga pendidikan telah menjembatani agar tindakan yang tidak beretika tersebut tidak dilakukan oleh lulusannya ketika telah bekerja. Polines adalah salah satunya. Mahasiswa Jurusan Akuntansi Polines tidak hanya menerima mata kuliah yang sepenuhnya mengacu pada akuntansi. Pada semester 1, mahasiswa menerima mata kuliah pendidikan agama juga mata kuliah etika bisnis dan profesi. Pada mata kuliah pendidikan agama kita diajarkan untuk selalu mengingat Tuhan jadi kita bisa menjadi orang yang jujur kapanpun dan dimanapun. Sedangkan mata kuliah etika bisnis dan profesi, kita diajarkan tentang perlunya kode etik dalam profesi. Dalam kenyataannnya, banyak akuntan yang tidak memahami kode etik profesinya sehingga dalam praktiknya mereka banyak melanggar kode etik. Hal ini menyebabkan menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi. Kondisi ini diperburuk dengan adanya perilaku beberapa akuntan yang sengaja melanggar kode etik profesinya demi memenuhi kepentingan mereka sendiri.
Dengan ditambahnya mata kuliah seperti pendidikan agama dan etika profesi tersebut, diharapkan lulusan akuntansi Polines tidak akan melakukan tindak korupsi dan jauh dengan neraka. Semoga saja calon-calon akuntan dari Polines merupakan akuntan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

POLITIK KAMPUS

Oleh : Mohammad Muchlisin
Mahasiswa Semester 3 Jurusan Akuntansi

Politik kampus adalah suatu tatacara dan kebijakan yang mengandung kepemimpinan untuk mengatur segala sesuatunya yang berhubungan dengan kampus tersebut. Politik kampus dapat tercipta dan berkembang apabila peran dari mahasiswa sendiri tertarik dan turut serta berkontribusi aktif dalam hal-hal yang bersifat politis.
Didalam politik kampus terdapat dua bagian yang memegang peran utama untuk terwujudnya politik kampus itu sendiri, bagian pertama yaitu pemimpin mahasiswa atau yang lebih dikenal aktivis kampus, yaitu mahasiswa yang dalam kesehariannya aktif dalam urusan organisasi intern kampus. Sekelompok aktivis inilah yang dapat membuat suatu kebijakan atau peraturan intern kampus khususnya dalam ranah organisasi mahasiswa. Bagian kedua yang tidak kalah pentingnya yaitu mahasiswa (non aktivis) yang juga berperan cukup besar dalam hajat terbesar organisasi mahasiswa di kampus kita yaitu Pemilu Raya (PEMIRA), yang sebentar lagi akan kita laksanakan bersama. Kedua bagian ini tidak dapat terpisahkan, karena satu sama lain saling terikat dan berhubungan untuk membentuk suatu politik kampus.
Setiap kampus memiliki sistem pemerintahan mahasiswa tersendiri dan sistemnya pun berbeda-beda. Sistem tersebut memiliki fungsi antara lain sebagai pengendali jalannya kehidupan organisasi di kampus tersebut, sebagai tempat berlatih bagi mahasiswa yang memiliki idealisme untuk berpolitik, sebagai ajang kreatifitas yang kali ini dalam hal berpolitik, serta sebagai penghubung mahasiswa dengan institusi. Tetapi ironisnya di dalam kehidupan kenegaraan sering kali politik juga digunakan sebagai ajang mencari popularitas belaka untuk menarik simpati masyarakat, itulah yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini. Bukan menjalankan tugas sebagaimana mestinya tetapi malah asyik beradu argumen demi popularitas. Sungguh sangat disayangkan..
Politik kampus akan tercipta apabila dua bagian utama dalam politik tersebut menjalankan fungsinya dengan baik. Sedikit menghubungkan dengan kampus kita, menurut saya kehidupan politik di kampus kita ini kurang begitu terasa, khususnya untuk setahun terakhir ini. Hal ini dapat kita lihat pada pelaksanaan PEMIRA tahun lalu misalnya, karena kurangnya semangat berpolitik dari sebagian besar mahasiswa Polines sehingga pelaksanaan PEMIRA pada waktu itu terasa sangat sepi. Besar harapan saya PEMIRA tahun ini bisa lebih ramai dan dapat dirasakan kembali keberadaannya. So, tunjukkan kontribusi aktif kita sebagai bagian utama kesuksesan politik kampus, semoga dikampus kita tercinta ini akan tercipta iklim politik yang lebih hidup dan sehat. JAYA POLINES !!! []

PMW, Kerjasama Ditjen Dikti-Polines yang Sepi Peminat

Polines, DIMENSI – Jumat (21/1) PMW (Program Mahasiswa Wirausaha) merupakan program penyediaan modal usaha dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti). Sasaran dari program ini adalah seluruh mahasiswa di Perguruan Tinggi dari berbagai jurusan dengan persyaratan mahasiswa telah menyelesaikan kuliah 3 semester atau minimal telah menempuh 60 SKS.
Latar belakang dari program ini adalah hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Maret 2006 yang menyebutkan jumlah penduduk Indonesia yang miskin bertambah sejak tahun 2005. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi lebih berminat sebagai pencari kerja (job seeker) daripada sebagai pencipta lapangan kerja (job creator). Untuk itulah Departemen Pendidikan Nasional mengembangkan berbagai kebijakan dan program untuk mendukung terciptanya lulusan perguruan tinggi yang lebih siap bekerja dan menciptakan pekerjaan. Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) dan Cooperative Education (Co-op) telah banyak menghasilkan alumni yang terbukti lebih kompetitif di dunia kerja, dan hasil-hasil karya mahasiswa ini ditindaklanjuti secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks).
Strategi pendidikan yang diwujudkan dalam PMW ini bertujuan membentuk softskill agar berperilaku sesuai karakter wirausaha. Pelaksanaan program dirancang untuk jangka waktu satu tahun (12 bulan) yang dibagi menjadi tiga tahapan yaitu tahapan persiapan, pembekalan dan pelaksanaan program. Pembiayaan program berasal dari Pemerintah dengan alokasi antara lain untuk pengelolaan program oleh Perguruan Tinggi (10%), pendidikan dan pelatihan Kewirausahaan serta Magang (20%) dan penyediaan modal kerja untuk memulai bisnis (start-up business) (70%) yang besarnya maksimum 8 juta/mahasiswa, atau berkelompok yang terdiri dari 3 – 5 orang/kelompok dengan dana maksimum 40 juta/kelompok usaha.

Tidak tanggung-tanggung, pemerintah mengucurkan dana sebesar 500 juta untuk setiap Perguruan Tinggi. Selain mendapatkan dana, mahasiswa yang terpilih juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kuliah kewirausahaan, magang industri, serta pembinaan dalam penyusunan rencana bisnis. Kesempatan tersebut merupakan modal ilmu dalam berwirausaha yang diberikan secara cuma-cuma.
Sebagian besar mahasiswa mengaku tahu program tersebut namun mereka tidak begitu mengerti sebenarnya program itu untuk apa dan bagaimana prosedurnya. “Setahuku memang ada program yang dialokasikan bagi mahasiswa untuk berbisnis, tapi aku nggak tahu itu gimana caranya”, terang Isty, mahasiswa Polines jurusan Teknik Informatika. Kurangnya sosialisasi itulah yang menyebabkan mahasiswa tidak berminat untuk mengikuti PMW.
“Polines telah memulai pengadaan program ini, namun kuota peminat telah berkurang sejak tahun 2009, untuk itu saya melakukan penelitian bersama dosen lainnya untuk mengetahui penyebabnya”, tutur Bu Rif 'ah selaku dosen pembimbing kegiatan PMW ini.
Program ini telah menghasilkan beberapa usaha, banyak yang berhasil namun adapula yang tidak. Sebagian besar keberhasilan program ini dikarenakan usaha yang mereka ajukan sudah dirintis sebelumnya. Faktor kegagalan usaha lebih pada kurangnya pengalaman dan pengetahuan peserta tentang kondisi pasar. Bisnis yang berhasil dengan kerjasama program PMW ini yaitu; Bakso Kremes di kantin TN, Jus Buah di dekat Polines, dan bisnis kaos khas Semarang Tjorodjangkrik. [Galih, Niar, mgg]

SAAT EKSISTENSI POLINES DIPERTANYAKAN

Polines, DIMENSI - (15/1) Sebagian besar siswa SMA dan sederajat maupun masyarakat luas, kurang mengenal nama Politeknik Negeri Semarang atau biasa disebut POLINES. Mereka menganggap bahwa Polines masih merupakan bagian dari Universitas Diponegoro, padahal pada kenyataannya Polines telah berdiri sendiri sejak tahun 1998, semenjak saat itu nama Politeknik Undip telah berubah nama menjadi Polines (Politeknik Negeri Semarang).
Kurangnya sosialisasi secara langsung maupun melalui media-media menjadi salah satu penyebab kurang familiarnya nama Polines di kalangan masyarakat umum, baik yang di Semarang maupun di luar Semarang. Seperti pengakuan siswi SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto tentang kurangnya sosialisasi. ”Aku sendiri kurang tahu gimana prospek ke depannya, habisnya dengar Polines cuma dari mulut ke mulut, nggak pernah dengar langsung dari instansi yang berkaitan,” kata Maya Septianti, siswi SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto. Selain itu karena letak gerbang depan kampus Polines yang ada di belakang kampus. Hal tersebut yang menyebabkan tak banyak orang mengetahui keberadaan kampus kita dikarenakan yang menjadi bagian belakang kampus terletak di sisi luar dekat dengan jalan Prof. Soedarto yang lebih ramai dilewati kendaraan daripada sisi depan tempat gerbang Polines. Hal ini terbukti saat seorang mahasiswi Polines sendiri menyatakan. ”Lebih bagus gerbang Polines ditaruh di dekat jalan besar aja ,eman-eman udah bagus-bagus nggak kelihatan. Mending ditaruh di tempat di mana banyak orang melintas,” kata Tina, mahasiswi Jurusan Elektro semester 1.
Kebanyakan siswa-siswi SMA lebih memilih perguruan tinggi negeri yang lebih bergengsi dan lebih kondang. Seperti yang diungkapkan Sigit siswa kelas XII mantan ketua OSIS SMA 2 Semarang bahwa ia lebih memilih meneruskan jenjang pendidikannya ke STAN (Sekolah Tinggi Administrasi Negara) atau UNDIP (Universitas Diponegoro). Ia pun hanya sekedar tahu tentang keberadaan Polines, tapi tidak terlalu berminat untuk meneruskan di sini dikarenakan ketidaktahuannya terhadap Polines itu sendiri. Pernyataan itu pula yang mewakili pendapat siswa-siswi SMA dan sederajatnya tentang Polines.
Sebenarnya mutu pendidikan Polines tak kalah dengan perguruan tinggi negeri lain. Banyaknya kerja sama dengan perusahaan-perusahaan negara maupun swasta menjadi salah satu tanda jika Polines memiliki nilai lebih dibanding dengan perguruan tinggi lain. Seperti yang tertera pada Buku Panduan Akademik Tahun 2010/2011 untuk Jurusan Teknik yang bekerja sama dengan PT PLN, Jurursan Akutansi bekerja sama dengan Bank Indonesia, Jurusan Administrasi Niaga yang bekerja sama dengan PT Free Port, dan masih banyak lagi kerja sama Polines dengan perusahaan-perusahaaan lain.
“Polines itu bagus kok kualitasnya kalau saya lihat dari kerja mahasiswa yang PKL di sini. Mereka rajin, patuh, dan mau belajar.”tutur Pak Kusnadi seorang karyawan PT Telkom Semarang. Ibu Sri Lestari Fajarwati,SPd seorang guru SMA Negeri 4 Semarang menyampaikan hal yang bernada sama. ”Iya, saya tahu Politeknik Negeri Semarang, itu dulu namanya PAT digabung dengan Undip. Polines bagus, soalnya kuliah di sana bisa cepat mendapatkan pekerjaan apalagi kalau ditingkatkan mutu pendidikannya,” tutupnya. (sf, rr,mgg)

Tempat Parkir dengan CCTV Tidak Berfungsi

Polines, DIMENSI (7/1) - Kasus kehilangan kendaraan bermotor merupakan hal yang sangat dihindari dan tengah diantisipasi oleh pihak keamanan Politeknik Negeri Semarang (Polines). Tidak dipungkiri bahwa petugas keamanan parkir menjadi komponen paling penting atas terciptanya keamaan. Namun disisi lain, dari ketiga pos parkir yang terdapat di Polines yaitu pos parkir pusat, pos parkir timur (BPD Jateng), dan pos parkir barat, dinilai tidak memiliki fasilitas dan kapasitas yang cukup baik untuk lembaga pendidikan sebesar Politeknik Negeri Semarang.
Tiap-tiap pos parkir dijaga oleh dua orang petugas yang bekerja dalam waktu yang sama. Jam kerja dimulai pada pukul 06.30 - 15.00 WIB. Petugas merasa kewalahan jika hanya ada dua petugas yang harus mengawasi ratusan kendaraan yang terparkir di area seluas pos parkir pusat.
Salah satu petugas keamanan Polines, Budiyono, mengharapkan adanya penambahan jumlah petugas keamanan. “Setidaknya dibutuhkan tambahan satu orang di tiga titik pos parkir dan di lima titik pos satpam. Dengan begitu pekerjaan lebih ringan dan lebih terfokus karena jumlah tenaga yang memadai,”ujarnya.
Disamping tenaga kerja, fasilitas area parkir juga dianggap kurang memenuhi sarana keamanan tempat parkir. Di pos parkir depan Bank Jateng, bentuk area parkir yang non permanen sangat merepotkan petugas. “Karena tempat parkirnya tidak beratap, maka ketika hujan datang kami kehujanan. Begitu juga jika cuaca panas, kami pun kepanasan,” terang Budi Prayitno selaku petugas pos parkir timur yang telah mengabdi di Polines selama 10 tahun.
Sama halnya dengan petugas pos parkir barat yang mengeluhkan keadaan pos yang sudah tua. Selain itu tidak adanya kamar kecil yang aksesnya dekat dengan pos parkir barat juga menjadi keluhan petugas parkir. Lantai tempat parkir yang sudah lama rusak tidak mendapat perhatian. “Jika kerusakan ini terus dibiarkan maka besar kemungkinan akan membahayakan keselamatan pengguna parkir. Kajur Elektro sudah pernah meninjau, tapi belum ada realisasinya,” kata Yogi Ahmad.
Penyediaan rak-rak penitipan helm juga perlu bagi sebagian mahasiswa. Sebab ketika seorang pengguna parkir kehilangan helm, maka tidak akan memperoleh ganti rugi apapun dari pihak pengelola parkir. Berbeda halnya dengan kasus kehilangan kendaraan yang mendapat jasa ganti rugi atas pertanggung jawaban pengelola parkir.
Yogi Ahmad, selaku petugas parkir barat menyatakan, “Setidaknya para mahasiswa mempunyai kesadaran untuk menyapa kami agar kami bisa mengenal siapa sajakah pengguna area parkir ini. Jadi kami bisa menghindari kasus pencurian oleh orang asing yang memasuki area parkir.”
Kedisiplinan pengguna area parkir juga merupakan faktor penting dalam sistem keamanan parkir. Seluruh petugas keamanan mengharapan pemilik kendaraan mampu mengamankan kendaraan mereka dengan cara memasang kunci pengaman ganda.
Sering kali mahasiswa memarkir kendaraannya diluar area parkir. Seperti di area parkir timur, mahasiswa yang melakukan kegiatan diluar kegiatan perkuliahan lebih sering memarkir kendaraannya di depan PKM, yang bukan merupakan area parkir.
Beberapa jalan keluar untuk menghindari kasus pencurian kendaraan telah dilaksanakan. Salah satunya dengan menyediakan CCTV di area parkir pusat. Ironisnya, peralatan secanggih CCTV pun tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal. Belum ada setahun CCTV sudah tidak dapat difungsikan kembali. Entah karena rusak atau karena terbatasnya sarana pelengkap CCTV.
“Adanya CCTV tidak bermanfaat banyak bagi kami karena CCTV yang tersedia tidak mampu menjangkau seluruh area parkir secara fokus,” terang Achmad N. selaku petugas keamanan Politeknik Negeri Semarang.
Penyediaan kartu parkir ditiap pos juga dinilai penting mengingat saat ini hanya area parkir pusatlah yang sudah dilengkapi kartu parkir.
“Saya harap Polines ini menjadi lebih baik,” tutup Budiyono selaku security Polines. [Intan, Niar, mgg]

Pak Raden yang Rajin

Gagah, terlihat segar dan berwibawa itulah gambaran seorang Pak Sukino yang lebih akrab disapa Pak Kino. Mudah saja kita untuk menemukannya, datanglah ke gedung Sekolah A Jurusan Elektro kemudian carilah orang berkumis tebal yang kata orang mirip Pak Raden di serial Unyil. Ia merupakan seorang helper di bagian jurusan Elektro.
Desember 1992 adalah awal dari pengabdiannya di Polines. Selama empat tahun pertama Pak Kino menjadi pegawai honorer, kemudian diangkat menjadi pegawai tetap di Politeknik Negeri Semarang. Loyalitasnya yang tinggi pada kampus kita dibuktikannya selama hampir 19 tahun. Susah senang ia jalani dengan ikhlas demi profesinya tersebut.
Sadar akan kebersihan lingkungan yang mendasari Pak Sukino dengan kumis tebal itu untuk bersemangat menjalani profesi yang sangat berjasa ini. Dia pun akan sangat geram jika melihat sampah berserakan tidak pada tempatnya. Terlebih jika ada sampah bekas permen karet yang menempel di lantai, karena hal ini akan semakin menyulitkan pekerjaannya.
“Saya sih kepinginnya kebersihan itu bukan tanggung jawab kami-kami ini saja, tapi ya semuanya menjaga. Biar dipandangnya enak, disawang juga nyaman.”ungkapnya mewakili keinginannya.
Setiap seusai jam perkuliahan Pak Kino berkeliling ke kelas-kelas untuk menutup jendela dan mengunci pintu. Di pagi hari membersihkan WC dan mengepel lantai. Ia juga segera berangkat bila diberi tugas oleh atasannya. Ditilik dari latar belakang pendidikannya yang hanya mengenyam sampai bangku SMP, memang dapat dikatakan kurang. Namun melihat hasil kerjanya yang memuaskan tak dapat lagi dipandang sebelah mata. Ia pun sudah akrab dengan beberapa mahasiswa, jadi tak heran jika ia familiar di mata mahasiswa apalagi dengan ciri khas kumis tebalnya itu. Walaupun ia harus membiayai istri dan kedua anaknya dengan gaji yang pas-pasan namun Pak Kino mengaku cukup betah dengan pekerjaan mulia ini. Apalagi ia tinggal tak jauh dari tempat kerjanya karena masih di sekitar Tembalang, jadi tak memerlukan biaya lebih untuk transportasi.
“Untuk Polines ke depannya saya berharap baik dari instansi bawah sampai atas semuanya bisa semakin maju.” tuturnya bijak.
Pak Kino bekerja bukan semata-mata hanya untuk mencari uang tapi merupakan pengabdian atas lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Untuk melakukannya dapat didasari dari niat hati, ketulusikhlasan dan yang paling penting adalah perasaan menjaga akan kebersihan dan keteraturan lingkungan. Selanjutnya hanya tinggal ketekunan dan juga kesabaran untuk menjalaninya. Bahkan Pak Kino mengaku senang dengan profesinya karena dari sana ia merasakan hangatnya kebersamaan dengan rekan-rekan satu profesinya.[shofi]

Polines Jalin Kerjasama dengan Freeport

Polines, DIMENSI – Pembatu Direktur III, Garup Lambang Goro, ST, MT, beserta rombongan, pada bulan Desember berkunjung ke PT Freeport Indonesia yang terletak di Papua. Tidak banyak yang mengetahui bahwa kampus Politeknik Negeri Semarang bekerjasama dengan PT Freeport dalam hal pendidikan. Kerjasama tersebut telah terjalin lebih dari 4 tahun, khususnya berhubungan dengan pada keniagaan yaitu Jurusan Administrasi Niaga. Hal ini diwujudkan dengan terlaksananya program beasiswa yang kini diberikan pada 24 mahasiswa Polines yang berdomisili di Papua. Mereka juga berkewajiban untuk mengenyam pendidikan di kampus Polines pada periode yang telah ditentukan.
Dosen pengajar Polines yang berdomosili di Semarang pun tak luput dari proses belajar mengajar 24 mahasiswa istimewa tersebut. Beliau tak enggan diterbangkan ke Papua untuk memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang berada di Papua.
Keberangkatan PD III beserta rombongan ke PT Freeport berlangsung pada tanggal 17 hingga 20 Desember 2010 dengan agenda melaksanakan rapat evaluasi yudisium dan mengukuhkan ikatan alumni Polines di Papua atau yang lebih akrab disebut Ika Polines Santika. Kata Santika sendiri diambil dari singkatan Administrasi Niaga Timika.
Mahasiswa Administrasi Niaga tersebut menempuh Pendidikan hanya dalam kurun waktu 2 tahun, hal ini berbeda dengan mahasiswa pada umumnya yang mengenyam pendidikan selama 3 tahun. Nantinya mahasiswa tersebut diprioritaskan untuk diterima bekerja pada PT Freeport. “Hingga saat ini terdapat 36 anggota Ika Polines Santika yang bekerja di PT Freeport,” ungkap Garup Lambang Goro ST.MT.
Dalam Pengukuhan Ika Polines Santika, dari 36 alumni hanya 8 alumni yang dapat menghadiri acara tersebut dikarenakan kesibukan masing-masing yang telah bekerja di PT Freeport. “Nantinya diharapkan kerjasama ini akan terjalin tak hanya dalam Jurusan Administrasi Niaga, namun pada jurusan yang lain pula dan lulusan Polines program reguler juga dapat bekerja di PT Freeport,” tutup beliau. [naya-mgg]

Pembela Rakyat yang Tertidur

Oleh Bela Jannahti
Mahasiswa Semester I Jurusan Konversi Energi

Siapa yang tak mengenal Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta? Atau mungkin Soekarni, Wikana, serta Chairul Shaleh? Ya, mereka adalah sebagian dari para tokoh yang mempunyai andil besar dalam membebaskan bangsa kita dari cengkraman penjajah. Sejak masih muda, mereka sudah memulai perjuangan dan usaha untuk merebut kedaulatan Indonesia dari tangan penjajah. Dari pemuda-pemuda itulah kemerdekaan Indonesia berhasil diraih.
Begitu hebatnya kekuatan yang ditimbulkan oleh segelintir pemuda dengan semangat yang meletup-letup. Sudah banyak perubahan di negeri kita ini yang dibawa oleh pergerakan pemuda, terutama mahasiswa. Seperti pada masa pergerakan nasional, muncul banyak organisasi kepemudaan yang bersifat kedaerahan, terselenggaranya sumpah pemuda, dan tak lupa pula pergerakan mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Belanda. Runtuhnya orde baru juga tak lepas dari peranan mahasiswa. Sejarah telah mencatat berbagai perubahan yang diperjuangkan oleh mahasiswa. Tak heran jika kemudian mahasiswa disebut sebagai agent of change. Mahasiswa juga memiliki peran sebagai social control, yaitu peranan menjaga dan memperbaiki nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Tak hanya itu, mahasiswa juga memiliki peran iron stock dalam perubahan di negeri ini, yakni mahasiswa sebagai aset atau cadangan sebagai pemimpin masa depan.
Ketiga peran itu dapat muncul karena mahasiswa memiliki sifat kritis. Dengan sifat kritis yang dimiliki mahasiswa, diharapkan akan muncul ide-ide solutif, kreatif dan konstruktif yang dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Tak salah apabila masyarakat memiliki perspektif bahwa mahasiswa itu hebat. Karena di tangan para mahasiswa lah tergenggam arah bangsa.
Namun kenyataan yang kita hadapi saat ini jauh sekali dari bayangan diatas. Sifat kritis bukan lagi sesuatu yang identik dengan mahasiswa. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa mahasiswa sekarang ini tak banyak yang peduli akan lingkungan dan keadaan bangsanya. Mahasiswa didoktrin hanya untuk memikirkan masa depannya, untuk memikirkan kesejahteraannya sendiri dan keluarganya, tanpa memikirkan nasib bangsa.
Mindset mahasiswa terdahulu dengan mahasiswa sekarang sangat berbeda. Sangat sedikit mahasiswa yang masih berkeinginan untuk membela rakyat, menegakkan nilai-nilai demokrasi dan memperjuangkan keadilan. Kebanyakan mahasiswa saat ini lebih sibuk mengejar Indeks Prestasi(IP) setinggi-tingginya, dengan harapan akan memperoleh pekerjaan yang diinginkan dengan gaji banyak. Hal itu lah yang menyebabkan mahasiswa menjadi kurang peka akan lingkungannya, akan isu-isu penting yang sebenarnya sangat membutuhkan suara-suara yang kritis dan konstruktif dari para mahasiswa sebagai social control. Idealisme mahasiswa seolah dininabobokan oleh impian kehidupan mapan di masa depan, dan diselimuti oleh ketakutan akan sulitnya mencari pekerjaan di masa mendatang.
Padahal sesungguhnya, negeri kita ini haus akan perubahan. Pergerakan mahasiswa yang bisa membawa angin segar bagi bangsa sangat dinantikan oleh rakyat Indonesia. Karena mahasiswa berasal dari rakyat, diharapkan mahasiswa mampu membela dan memperjuangkan nasib rakyat. Tak ada yang perlu kita takutkan selama kita berpegang teguh pada prinsip dan memperjuangkan apa yang seharusnya kita perjuangkan. Semoga saja para pembela rakyat ini segera terbangun dari tidurnya.

Selasa, 30 November 2010

Lomba Fotografi Dimensi

buad kamu yang punya hobi ato keahlian , bakat,profesi & etc dalam hal fotografi ....
ayo!!
salurkan tunjukan kemampuanmu itu di lomba Fotografi dimensi...
rencananya akan terpajang 100 foto dari intern maupun ekstern Lpm Dimensi Politeknik Negeri Semarang
seru kan..?
info lebih lanjut...
klik aja disini

pendas come soon!!!